Tahun keempat, jangan bercanda lagi.

Tahun pertama, sepasang mata kita saling bertemu.
Tahun kedua, setiap tempat-tempat terdapat jejak kita.

Aku mulai menyukai angin malam, yang membawa aroma tubuhmu tepat padaku di belakangmu saat motor melaju. Atau embun pagi, yang menandakan tak lama lagi aku akan bertemu denganmu. Aku mulai menikmati setiap tegukan kopi hangat bersamamu, rasanya manis. Yang kemudian ku ketahui, kopiku murni tanpa gula ataupun susu. Aku mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian kecilmu, atau sikap heroik mu yang selalu membuatku merasa aman.

Entah di waktu yang mana, kopi yang mana, perhatian yang mana, hatiku terikat padamu.

Aku berbuat kesalahan. Setidaknya itu yang aku pikirkan saat ini. Pada tahun ketiga.

Aku terlalu nyaman berteduh pada matamu, sampai-sampai tidak menyadari ada berapa perempuan lain yang juga berteduh. Aku terlalu naif, menganggap semua kebersamaan dapat merubah aku dan kamu menjadi kita. Suatu hari aku tahu, kamu telah menemukan pelabuhan hatimu. Dan, bukan aku.

Kamu tahu? Hati adalah bagian dari diri kita yang paling sulit dikendalikan. Bahkan setelah semuanya berakhir tanpa kejelasan -yang mana memang tidak ada yang butuh diperjelas, aku masih memandangmu dengan cara yang berbeda. Dengan cara memandang, yang tak pernah kau tujukan padaku tetapi ya padanya.

Tahun keempat, segera datang. Aku harap semua rasa yang pernah ada untukmu, tak ada lagi yang tersisa. Dan, aku harus siap, mungkin saja kopiku akan terasa pahit mulai dari sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

am I ready?

Lalu apa?