am I ready?
27 Mei 2014 01:00pm
"Alhamdulillah ya Allah, keterima!!"
"Ya sudahlah...masih banyak jalan menuju roma"
"EH BRO LO GIMANA!? KETERIMA GAK?"
"Hm, bukan jalannya.. ya bukan gagal kok, hanya belum beruntung"
dreeeet. Pas gue buka timeline twitter, sederet isinya tweet anak kelas 12 yang ngomongin soal snmptn. Langsung aja gue bbm-in temen gue yang statusnya anak aksel dan kakak kelas yang gue kenal, gimana hasilnya mereka? dan ya jawaban yang gue terima juga bervariasi kayak tweet-tweet diatas. Ada yang udah rede tinggal nunggu waktu jadi maba, ada juga yang masih harus berkutat dengan soal-soal bimbel. Ada yang berhasil keterima, dan ada juga yang masih harus berjuang lagi di sbmptn. Tiba-tiba gue tertegun. Seolah-olah gue ikut merasakan euphoria ataupun bahkan kegalauan hati sebagian dari mereka. Banyak pertanyaan melintas di benak gue, mulai dari ; "tahun depan gue gimana ya?" "gue masuk jurusan mana nih?" "ambil universitas apa ya buat didaftarin snmptn?" "duh, sanggup gak nih gue?" "apa usaha gue buat mencapai target?" sampai pertanyaan yang sebenernya kalau dipikir-pikir gak nyambung sama topiknya; "kenapa gue jomblo?" oke fix, yang terakhir ini harus kita abaikan.
Cerita sedikit soal gue. Dari smp gue udah mulai mikirin soal masa depan gue. Gak seperti kebanyakan anak-anak yang kalau ditanya soal cita-cita, jawabnya kalau gak dokter ya guru. Gue gak berpikiran begitu. Dengan mantap gue pasti menjawab, "DUTA BESAR". Gak cuman angan kosong gitu aja, gue juga udah nge-search gimana caranya buat mencapai target tersebut. Gue harus masuk fak. Hubungan Internasional. Dan salah satu kuncinya adalah perdalam bahasa asing. Minimal gue harus bisa lebih dari 5 bahasa asing dengan fasih. Terus gue mikir, gue udah pernah belajar bahasa inggris, bahasa jepang, bahasa jerman. Masih kurang 2. Itupun yang 3 masih acak kadul. Cas cis cus aja yang penting muka harus dapet ekspresinya kalau pas ambil nilai praktek conversation.
Lanjut naik kelas 11, gue masuk jurusan ipa. Nah, gue mulai tertarik sama mapel kimia. Nilai ulangan gue juga Alhamdulillah. Gue makin ngerasa, dunia gue ya kimia. Ditambah nyokap bokap lulusan kimia. beeuh. tapi entah apa yang mendorong gue, gue kepengen masuk jurusan pertambangan atau perminyakan gitu dibanding tekkim.
Dan sekarang gue pun galau. Kemanakah hamba harus berlabuh...
Dan inilah jawaban dari sebagian otak gue yang gak terkena syndrome galau.
Kemanapun nanti gue berakhir dan jadi apapun gue nantinya, semua itu ditentukan dari aksi gue hari ini. Semua hasil baik berawal dari sebuah kerja keras. Jangan pernah sebut mereka yang keterima snmptn hanya karena faktor lucky. Karena gue punya kamus mendefinisikan; "keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan"
Be ready = be intelligent + be skillful.
"Alhamdulillah ya Allah, keterima!!"
"Ya sudahlah...masih banyak jalan menuju roma"
"EH BRO LO GIMANA!? KETERIMA GAK?"
"Hm, bukan jalannya.. ya bukan gagal kok, hanya belum beruntung"
dreeeet. Pas gue buka timeline twitter, sederet isinya tweet anak kelas 12 yang ngomongin soal snmptn. Langsung aja gue bbm-in temen gue yang statusnya anak aksel dan kakak kelas yang gue kenal, gimana hasilnya mereka? dan ya jawaban yang gue terima juga bervariasi kayak tweet-tweet diatas. Ada yang udah rede tinggal nunggu waktu jadi maba, ada juga yang masih harus berkutat dengan soal-soal bimbel. Ada yang berhasil keterima, dan ada juga yang masih harus berjuang lagi di sbmptn. Tiba-tiba gue tertegun. Seolah-olah gue ikut merasakan euphoria ataupun bahkan kegalauan hati sebagian dari mereka. Banyak pertanyaan melintas di benak gue, mulai dari ; "tahun depan gue gimana ya?" "gue masuk jurusan mana nih?" "ambil universitas apa ya buat didaftarin snmptn?" "duh, sanggup gak nih gue?" "apa usaha gue buat mencapai target?" sampai pertanyaan yang sebenernya kalau dipikir-pikir gak nyambung sama topiknya; "kenapa gue jomblo?" oke fix, yang terakhir ini harus kita abaikan.
Cerita sedikit soal gue. Dari smp gue udah mulai mikirin soal masa depan gue. Gak seperti kebanyakan anak-anak yang kalau ditanya soal cita-cita, jawabnya kalau gak dokter ya guru. Gue gak berpikiran begitu. Dengan mantap gue pasti menjawab, "DUTA BESAR". Gak cuman angan kosong gitu aja, gue juga udah nge-search gimana caranya buat mencapai target tersebut. Gue harus masuk fak. Hubungan Internasional. Dan salah satu kuncinya adalah perdalam bahasa asing. Minimal gue harus bisa lebih dari 5 bahasa asing dengan fasih. Terus gue mikir, gue udah pernah belajar bahasa inggris, bahasa jepang, bahasa jerman. Masih kurang 2. Itupun yang 3 masih acak kadul. Cas cis cus aja yang penting muka harus dapet ekspresinya kalau pas ambil nilai praktek conversation.
Lanjut naik kelas 11, gue masuk jurusan ipa. Nah, gue mulai tertarik sama mapel kimia. Nilai ulangan gue juga Alhamdulillah. Gue makin ngerasa, dunia gue ya kimia. Ditambah nyokap bokap lulusan kimia. beeuh. tapi entah apa yang mendorong gue, gue kepengen masuk jurusan pertambangan atau perminyakan gitu dibanding tekkim.
Dan sekarang gue pun galau. Kemanakah hamba harus berlabuh...
Dan inilah jawaban dari sebagian otak gue yang gak terkena syndrome galau.
Kemanapun nanti gue berakhir dan jadi apapun gue nantinya, semua itu ditentukan dari aksi gue hari ini. Semua hasil baik berawal dari sebuah kerja keras. Jangan pernah sebut mereka yang keterima snmptn hanya karena faktor lucky. Karena gue punya kamus mendefinisikan; "keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan"
Be ready = be intelligent + be skillful.
Study now or stupid tomorrow.
wezettt tercium bau gue..
BalasHapusIyanih, kecium bau-bau keberhasilan lo di sbmptn..wadezig.
Hapussemangat Sasa!!! tekkim ga belajar kimia doang kok, fisika malah yang paling banyak *kata orang2 sih begitu* :3 haha belajar yang rajin ya dek, biar nanti di kelas 3nya ga keteteran ngejar materi kayak kakak dulu :') kalau bisa, masuk top 10 UN terbaik nasional yaa :')
BalasHapusAamiin, thankyou so muchhh kakak gizi, atas doa dan masukannya<3 semangat sukses yess!
HapusReady lah sa! Fighting\m/
BalasHapusWeeeylah makasih calon maba ITS! GANBATTEEE! \m/
Hapus