Lalu apa?
"Wah, gak terasa ya kamu udah mau semester 7 aja."
Hee. Respon seperti itu tidak asing lagi bagiku, tepat setelah orang-orang mengetahui sudah mau 3.5 tahun aku duduk-berjuang-tak lupa bermain- di bangku kuliah. HOOOO wahai readers, percayalah "gak terasa" hanya bisa keluar dari mulut orang-orang yang tidak pernah mendengar ini;
DEADLINE JAM 12 MALAM! PANITIA KUMPUL NANTI SORE YAA! KUMPULKAN BESOK DI MEJA SAYA! KE RUHIM DULU YUK! HEY SA JANGAN KABUR! (LOLOLOL, kalimat terakhir ini saat aku mencoba untuk tidak menghadiri kumpul angkatan sehabis jam kuliah.)
Entah berapa banyak air mata yang sudah membekas di bantal kamar kos, entah berapa pak hvs dihabiskan untuk laporan praktikum, entah berapa banyak koin ku habiskan untuk sekedar karaokean melepas penat, entah berapa banyak waktu tidur ku direnggut oleh deadline-deadline yang sungguh mematikan. Dan entah berapa banyak dering-dering telfon/line yang sudah kuabaikan saat ketua panitia mengajak rapat di saat tak tepat. Belum lagi, disetiap penghujung liburan kenaikan semester, rasanya berat untuk kembali merantau, ada sesak di dada yang sulit dijelaskan. Mencium tangan keluarga, memohon doa untuk kelancaran satu semester kedepan. Jangan berkomentar, bila bukan anak rantau. Oh ya, semua itu sungguh "gak terasa" (diam-diam menangis).
"Tahun depan lulus dong?"
Kalimat selanjutnya, pasti berupa pertanyaan ini. Aamiin, jawabku keras-keras. Untungnya, tidak ada pertanyaan lebih lanjut seperti, "lalu setelah ini mau apa?".
Wahiya, setelah ini apa? Setelah berapa tahun berjuang mati-matian untuk mendapat nilai A? Dalam hati, aku mencoba mencari jawabannya.
Nikah! ...hehe sekarang saja pendamping wisuda belum nampak.
Kerja! ....apa iya langsung melamar kerja saja ya sebelum dilamar orang?
Studi lagi! ...yang ini juga oke sih, asal bukan yang berbau fisika lagi HAHA.
Atau apa?
Ah. Satu semester lagi. Masih ada waktu satu semester lagi hingga aku dapat menjawab pertanyaan 'lalu apa?'. Biarlah untuk saat ini, aku selesaikan studiku dulu. Segera setelah lulus, aku akan menjawab pertanyaan 'lalu apa?' dengan yakin. Kau boleh tagih aku nanti!
Karena saat ini, ada hati yang tak boleh ku kecewakan, ada harapan-harapan yang harus aku penuhi. Setelahnya akan ada mata bahagia menungguku berdiri dengan percaya diri dalam setelan wisuda.
Tunggu aku, ma.
Komentar
Posting Komentar